Kerusuhan Besar di Prancis Setelah PSG Juara Liga Champions

Kerusuhan Besar di Prancis Setelah PSG Juara Liga Champions

Perayaan kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions 2024/2025 berubah menjadi tragedi ketika kerusuhan massal melanda berbagai kota di Prancis. Insiden ini menewaskan dua orang, melukai ratusan lainnya, dan menyebabkan penangkapan massal oleh aparat keamanan. Artikel ini akan mengupas tuntas kronologi peristiwa, dampaknya, serta respons berbagai pihak terhadap kerusuhan ini.

Kerusuhan di Paris setelah PSG juara Liga Champions
Suasana kerusuhan di Champs-Élysées setelah kemenangan PSG (Foto ilustrasi)

Kemenangan Bersejarah PSG

Pada Sabtu, 31 Mei 2025, Paris Saint-Germain menciptakan sejarah dengan menjadi juara Liga Champions untuk pertama kalinya. PSG mengalahkan Inter Milan dengan skor telak 5-0 di final yang berlangsung di Allianz Arena, Munich, Jerman. Kemenangan ini mengakhiri penantian panjang klub dan para pendukungnya untuk trofi bergengsi di tingkat Eropa [citation:1][citation:4].

Gol-gol kemenangan PSG dicetak oleh Achraf Hakimi (menit 12'), Desire Doue (menit 20' dan 63'), Khvicha Kvaratskhelia (menit 73'), dan Senny Mayulu (menit 86'). Kemenangan ini menjadikan PSG sebagai tim ke-24 yang pernah merebut juara Liga Champions [citation:6][citation:10].

Perayaan yang Berubah Menjadi Kerusuhan

Euforia kemenangan PSG dengan cepat berubah menjadi kekacauan di berbagai kota Prancis, terutama di Paris. Ribuan pendukung PSG memadati jalan-jalan utama ibu kota Prancis, terutama kawasan Champs-Élysées yang terkenal. Namun, suasana perayaan yang semula riang gembira berubah menjadi kerusuhan ketika sekelompok pendukung mulai bertindak anarkis [citation:1][citation:7].

"Para pembuat onar di Champs-Elysees berniat menciptakan insiden dan berulang kali berkonflik dengan polisi dengan melemparkan kembang api besar dan benda-benda lainnya," - Pernyataan Kepolisian Prancis [citation:1]

Kerusuhan dimulai ketika sekelompok pendukung mulai melemparkan batu, botol, dan berbagai benda berbahaya ke arah petugas polisi. Mereka juga merusak halte bus, membakar mobil, dan mencoba menembak polisi dengan kembang api. Polisi anti huru-hara merespons dengan tembakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kerumunan.

Korban Jiwa dan Kerusakan

Kerusuhan ini menelan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan material yang cukup besar:

  • Korban jiwa: Dua orang tewas dalam insiden terkait perayaan ini. Seorang remaja berusia 17 tahun meninggal setelah ditikam di dada di kota Dax, barat daya Prancis. Korban kedua adalah pria berusia 23 tahun yang tewas setelah skuternya ditabrak kendaraan di pusat kota Paris.
  • Korban luka: Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat 192 orang terluka, termasuk 22 petugas polisi dan 7 petugas pemadam kebakaran [citation:1][citation:6].
  • Penangkapan: Sebanyak 559 orang ditangkap di seluruh Prancis, dengan 491 di antaranya ditangkap di Paris.
  • Kerusakan material: Lebih dari 200 kendaraan dibakar, dan berbagai fasilitas umum dirusak selama kerusuhan.

Respons Pemerintah dan Tokoh Terkait

Pemerintah Prancis dan berbagai tokoh terkait memberikan respons terhadap kerusuhan ini:

Menteri Dalam Negeri Prancis, Bruno Retailleau, dengan tegas mengutuk tindakan kekerasan yang terjadi. Dalam pernyataannya di media sosial, Retailleau membedakan antara pendukung sejati PSG yang merayakan kemenangan dengan bangga dan "para barbar yang turun ke jalan untuk membuat kekacauan".

Presiden Prancis Emmanuel Macron, meskipun dikenal sebagai pendukung setia rival PSG Olympique de Marseille, mengucapkan selamat kepada PSG melalui unggahan di platform X: "Hari yang gemilang untuk PSG! Bravo, kami semua bangga. Paris, ibu kota Eropa malam ini." Namun, Macron tidak secara langsung menanggapi kerusuhan tersebut.

Bintang PSG Ousmane Dembélé juga turut angkat bicara, meminta penggemar untuk menikmati euforia juara tanpa berbuat onar. "Mari merayakan ini tapi jangan menghancurkan segalanya di Paris," kata Dembélé usai laga final.

Insiden di Luar Paris

Kerusuhan tidak hanya terjadi di Paris. Di Grenoble, Prancis tenggara, sebuah mobil menabrak sekelompok penggemar PSG, menyebabkan empat orang dari satu keluarga terluka, dua di antaranya mengalami luka serius. Pengemudi menyerahkan diri kepada polisi dan langsung ditahan. Sebuah sumber yang terlibat dalam penyelidikan menyatakan bahwa pengemudi diduga tidak bertindak dengan sengaja.

Di Coutances, seorang petugas polisi mengalami luka serius akibat ledakan petasan dan harus menjalani perawatan intensif karena cedera pada kepala dan mata.

Sejarah Masalah dengan Suporter PSG

Ini bukan pertama kalinya pendukung PSG terlibat dalam insiden kekerasan. Kelompok ultras PSG dikenal dengan aksi-aksi brutal mereka. Pada Maret 2022, bek Layvin Kurzawa menjadi korban ketika sejumlah ultras menghadang mobilnya karena marah atas kekalahan PSG di Liga Champions, meskipun Kurzawa sendiri tidak bermain dalam pertandingan tersebut.

Bahkan Lionel Messi dan Neymar pernah menjadi korban serangan verbal dari pendukung PSG ketika beredar isu bahwa kedua bintang tersebut akan meninggalkan klub. Pendukung PSG membuat mural berisi hinaan di tembok-tembok jalan kota Paris.

"Pendukung sejati PSG merayakan kemenangan timnya dengan penuh kebanggaan. Namun sekelompok barbar justru turun ke jalan untuk membuat kekacauan dan menyerang petugas," - Bruno Retailleau, Menteri Dalam Negeri Prancis

Dampak Jangka Panjang

Kerusuhan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang budaya sepak bola Prancis dan bagaimana klub-klub besar seperti PSG dapat mengelola pendukung mereka. Beberapa analis mempertanyakan apakah PSG telah melakukan cukup banyak untuk mencegah kekerasan di antara basis pendukungnya.

Insiden ini juga terjadi di tengah situasi politik Prancis yang sedang tidak stabil, menyusul pembubaran parlemen Prancis yang "untuk saat ini telah membawa lebih banyak perpecahan ke Majelis Nasional daripada solusi", seperti diakui oleh Presiden Macron sendiri.

Kesimpulan

Perayaan kemenangan bersejarah PSG di Liga Champions berubah menjadi tragedi nasional dengan kerusuhan yang melanda berbagai kota di Prancis. Dua nyawa melayang, ratusan orang terluka, dan kerusakan material yang cukup besar menjadi catatan kelam dari momen yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi sepak bola Prancis.

Insiden ini menyoroti masalah mendalam dalam budaya sepak bola Prancis, khususnya terkait dengan kelompok pendukung yang sering menggunakan kekerasan. Pemerintah Prancis dan manajemen PSG kini dihadapkan pada tantangan besar untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan, sambil tetap mempertahankan semangat dan antusiasme yang sehat dari pendukung sepak bola.

Di tengah euforia kemenangan olahraga, penting untuk diingat bahwa sepak bola seharusnya menjadi pemersatu, bukan pemicu perpecahan dan kekerasan. Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak yang terlibat dalam sepak bola Prancis.

Sumber Referensi:

  • BBC Indonesia - "Dua orang meninggal dan ratusan ditangkap di Prancis usai kemenangan PSG di Liga Champion" [citation:1]
  • Detik Sport - "2 Orang Tewas dalam Kerusuhan di Pesta Juara PSG" [citation:4]
  • SuaraJatimPost - "Perayaan Juara Liga Champions 2024/2025 di Paris Berujung Maut" [citation:6]
  • Bola.net - "Paris yang Biasanya Romantis Berubah Mencekam: Kerusuhan Pecah Usai PSG Juara Liga Champions 2024/2025" [citation:7]
  • Suara.com - "Skandal PSG Juara Liga Champions: Kelakuan Nasser Al-Khelaifi hingga Potong Jari" [citation:10]

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.